Sekitar 1,5 miliar orang menderita gangguan pendengaran. Dari jumlah tersebut, 34 juta di antaranya merupakan anak-anak. Sisanya, 30 persen terdiri dari orang tua di atas 60 tahun.

Saat mengalami gangguan pendengaran, anak-anak bakal mengalami kesulitan mendengar atau memahami beberapa atau semua suara. Hal tersebut bisa terjadi ketika ada masalah dengan:

  • satu atau lebih bagian telinga
  • saraf yang mengirimkan sinyal suara dari telinga ke otak
  • bagian otak yang memahami sinyal-sinyal ini

Penyebab Gangguan Pendengaran Anak

Dalam catatan Centers for Disease Control and Prevention, gangguan pendengaran dapat terjadi kapan saja selama hidup dari sebelum lahir hingga dewasa. Adapun hal-hal yang berisiko meningkatkan kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran, yaitu sebagai berikut.

Penyebab Genetik

Satu dari dua kasus gangguan pendengaran pada bayi, muncul secara genetik. Beberapa bayi tersebut mungkin memiliki anggota keluarga yang juga memiliki gangguan pendengaran.

Sekitar satu dari tiga bayi dengan gangguan pendengaran genetik disertai dengan sindrom. Ini berarti mereka memiliki kondisi lain selain gangguan pendengaran, seperti Down atau or Usher syndrome.

Infeksi saat Ibu Hamil sampai Trauma Kepala

Selain karena genetik, satu dari empat kasus gangguan pendengaran pada bayi penyebabnya adalah infeksi ibu selama kehamilan, komplikasi setelah lahir, dan trauma kepala.

  • Terkena infeksi, seperti sebelum lahir
  • Menghabiskan lima hari atau lebih di unit perawatan intensif neonatal rumah sakit (NICU) atau mengalami komplikasi saat berada di NICU
  • Menjalani prosedur khusus seperti transfusi darah untuk mengobati penyakit kuning yang parah
  • Memiliki kepala, wajah atau telinga yang berbentuk atau dibentuk dengan cara yang berbeda dari biasanya
  • Memiliki kondisi seperti gangguan neurologis yang mungkin terkait dengan gangguan pendengaran
  • Memiliki infeksi di sekitar otak dan sumsum tulang belakang yang disebut meningitis
  • Mendapat cedera parah di kepala yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit

Selain itu, anak-anak dapat menderita gangguan pendengaran karena konsumsi obat-obatan misalnya obat anti malaria seperti Kina, antibiotik seperti gentamisin serta obat anti kanker tertentu. Kemudian, terdapat glue ear, yaitu cairan lengket seperti lem yang tersisa dan menumpuk di bagian tengah telinga, setelah pilek atau infeksi telinga. 

Anak-anak juga dapat mengalami gangguan dengar ketika ada benda asing masuk ke dalam telinganya. Misalnya, manik-manik, serangga masuk ke saluran telinga. Lalu, terjadi penumpukan kotoran telinga (bisa berwana cokelat, jingga, merah, kekuning-kuningan atau abu-bau) dengan jumlah yang berlebihan. 

Baca Juga : Gangguan Pendengaran pada Anak-anak Dapat Dicegah dengan Cara Ini

Ciri-ciri Gangguan Pendengaran Anak

Sementara itu, menurut Organisasi Kesehatan Manusia (WHO), orang tua harus curiga anak-anak mengalami gangguan dengar dengar tanda sebagai berikut.

  1. Anak tidak berbicara atau ada bukti yang menunjukkan dia berbicara dan adanya peningkatan bahasa pada tingkat yang diharapkan untuk anak-anak seusianya (dari usuia lahir sampai dengan tiga tahun)
  2. Anak sering meminta untuk mengulangi ucapan orang lain
  3. Menaikkan volume televisi dan bermasalah saat mendengar apa yang orang katakan melalui telepon
  4. Anak berkinerja buruk di sekolah atau memiliki masalah perilaku. Di dalam banyak kasus, penyebabnya oleh gangguan pendengaran. Sejak anak tidak mendengar instruksi dengan benar dan tidak akan (karena dia tidak bisa mendengar baik), ia juga tidak bisa merespons sdengan benar.
  5. Anak memiliki ciri-ciri yang menunjukkan adanya infeksi telinga, seperti: riwayat keluarnya cairan (nanah) dari telinga atau telinga berair, keluhan nyeri, perasaan tersumbat atau berdenging di telinga serta demam dengan sakit telinga.