Tinnitus menyebabkan bunyi seperti dengung, gemuruh, mengklik, desis, dan bersenandung pada satu atau kedua telinga. Jika terdengar sesekali saja, mungkin tidak akan menggangu penderitanya. Namun, bagaimana kalau bunyi tersebut terdengar terus-menerus?

Dampak Tinnitus

Seperti dilansir dari Mayo Clinic, tinnitus punya pengaruh berbeda-beda pada setiap orang. Bagi sebagian orang mungkin akan biasa saja. Namun, beberapa orang akan merasakan gejala-gejala yang mengganggu aktivitasnya. 

Sebab, bunyi tersebut hanya dapat didengar dan dirasakan diri sendiri. Apalagi, saat terjadi terus-menerus dan terdengar sangat keras. Jika demikian, tinnitus bisa menimbulkan dampak sakit kepala, kelelahan, stres, masalah tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.

Tak hanya itu, tinnitus menimbulkan efek masalah memori, kecemasan dan lekas marah, masalah dengan pekerjaan dan kehidupan keluarga, sampai masalah dengan pekerjaan dan kehidupan keluarga.

Ketika hal tersebut terasa, segera lakukan perawatan saat gejala-gejala tersebut muncul. Meski tak memengaruhi tinnitus sendiri, perawatan akan membuat penderita akan merasa lebih baik. Penderita juga dapat melakukan pemeriksaan yang tepat untuk mengatasi tinnitus. Apalagi, ketika mereka memiliki riwayat penyakit yang memicu tinnitus.

Penyakit pemicu tinnitus

Penyedia kesehatan memperkirakan ada sekitar 200 kondisi kesehatan yang berbeda yang merangsang perkembangannya. Berikut beberapa contohnya.

  1. Gangguan sendi temporomandibular (TMJ) merupakan gangguan yang terjadi karena peradangan atau iritasi pada otot dan persendian.
  2. Benda asing masuk bersarang di telinga. Tak hanya penyakit, masuknya benda asing ke dalam telinga dapat menyebabkan tinnitus. Contohnya, saat seseorang mencoba membersihkan telinga dengan pulpen atau pensil. Hal tersebut, tak akan membuat telinga bersih, malah membuat gendang telinga pecah
  3. Kotoran telinga (serumen) yang berlebihan sampai menumpuk karena tak dibersihkan dapat menyumbat telinga. Sehingga, akan memengaruhi pendengaran.
  4. Alergi tertentu juga yang dapat mempengaruhi infeksi pada telinga. Sebab, ketika alergi berlangsung dapat menyebabkan tuba eustachius meradang hingga bengkak. Jika sudah demikian, timbul cairan yang dapat membuat suara tidak sampai ke telinga.
  5. Schwannoma vestibular (neuroma akustik). Tumor jinak (non-kanker) ini mempengaruhi saraf yang terhubung ke otak dan mengatur keseimbangan dan pendengaran. Orang yang memiliki neurofibromatosis tipe 2 sering memiliki schwannomas vestibular.
  6. Otosklerosis. Pada bagian tengah, terdapat tiga tulang kecil yang terhubung ke gendang telinga untuk membantu memperkuat gelombang suara. Namun, tulang-tulang tersebut tumbuh secara tidak normal. Akhirnya membuat seseorang menderita kelainan.

Untuk mendapatkan diagnosis terkait tinnitus, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) mau pun tempat pemeriksaan pendengaran akan melakukan pengujian, yaitu sebagai berikut.

  • Pemeriksaan fisik untuk mengetahui masalah lebih jelas pada telinga. Tes fisik pun meliputi pemeriksaan tanda-tanda tinnitus berdenyut.
  • Riwayat kesehatan. Saat pengecekan ini, dokter akan bertanya apakah ada anggota keluarga lain yang mengalami gangguan pendengaran. Kemudian, apakah pasien menghabiskan banyak waktu di sekitar suara keras atau mendengar suara keras dari satu peristiwa.
  • Tes pendengaran (audiometri). Tes ini memeriksa kemampuan untuk mendengar berbagai nada. Hasilnya ditampilkan dalam audiogram.
  • Timpanometri. Pemeriksaan gendang telinga dilakukan dengan alat tympanometer. Hasilnya berupa tympanogram.
  • Pencitraan resonansi magnetik. Tes ini menghasilkan gambar detail tubuh tanpa menggunakan sinar-X.