Bunyi dengung, gemuruh, mengklik, desis, dan bersenandung yang terdengar dalam telinga karena tinnitus tampak biasa, jika terjadi sekali saja. Namun, akan sangat mengganggu saat suara tersebut terus-menerus berbunyi dengan volume sangat keras. 

Maka dari itu, penderita harus segera melakukan pemeriksaan yang tepat untuk mengatasi tinnitus. Apalagi, ketika mereka memiliki riwayat penyakit yang memicu tinnitus.

Penyedia kesehatan memperkirakan ada sekitar 200 kondisi kesehatan yang berbeda yang merangsang perkembangannya. Berikut beberapa contohnya.

1. Gangguan sendi temporomandibular (TMJ)

Gangguan sendi temporomandibular merupakan gangguan yang terjadi karena peradangan atau iritasi pada otot dan persendian.

2. Benda asing masuk bersarang di telinga

Tak hanya penyakit, masuknya benda asing ke dalam telinga dapat menyebabkan tinnitus. Contohnya, saat seseorang mencoba membersihkan telinga dengan pulpen atau pensil. Hal tersebut, tak akan membuat telinga bersih, malah membuat gendang telinga pecah

3. Kotoran telinga (serumen) yang berlebihan

Kotoran telinga yang menumpuk karena tak dibersihkan dapat menyumbat telinga. Sehingga, akan memengaruhi pendengaran.

4. Alergi

Alergi tertentu juga yang dapat mempengaruhi infeksi pada telinga. Sebab, ketika alergi berlangsung dapat menyebabkan tuba eustachius meradang hingga bengkak. Jika sudah demikian, timbul cairan yang dapat membuat suara tidak sampai ke telinga.

5. Schwannoma vestibular (neuroma akustik)

Tumor jinak (non-kanker) ini mempengaruhi saraf yang terhubung ke otak dan mengatur keseimbangan dan pendengaran. Orang yang memiliki neurofibromatosis tipe 2 sering memiliki schwannomas vestibular.

6. Otosklerosis

Pada bagian tengah, terdapat tiga tulang kecil yang terhubung ke gendang telinga untuk membantu memperkuat gelombang suara. Namun, tulang-tulang tersebut tumbuh secara tidak normal. Akhirnya membuat seseorang menderita kelainan.

Bagaimana cara mendapatkan diagnosis tepat untuk mengetahui tinnitus?

Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) mau pun tempat pemeriksaan pendengaran akan melakukan pengujian, yaitu sebagai berikut.

  1. Pemeriksaan fisik untuk mengetahui masalah lebih jelas pada telinga. Tes fisik pun meliputi pemeriksaan tanda-tanda tinnitus berdenyut.
  2. Riwayat kesehatan. Saat pengecekan ini, dokter akan bertanya apakah ada anggota keluarga lain yang mengalami gangguan pendengaran. Kemudian, apakah pasien menghabiskan banyak waktu di sekitar suara keras atau mendengar suara keras dari satu peristiwa.
  3. Tes pendengaran (audiometri). Tes ini memeriksa kemampuan untuk mendengar berbagai nada. Hasilnya ditampilkan dalam audiogram.
  4. Timpanometri. Pemeriksaan gendang telinga dilakukan dengan alat tympanometer. Hasilnya berupa tympanogram.
  5. Pencitraan resonansi magnetik. Tes ini menghasilkan gambar detail tubuh tanpa menggunakan sinar-X.

Tinnitus pada umumnya, memengaruhi sekitar 15 sampai 20 persen orang gangguan pendengaran. Tapi, kebanyakan tinnitus menyerang orang dewasa atau orang tua lanjut usia (lansia). Tinnitus pun tidak dikategorikan sebagai penyakit.

Tapi, tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena, seseorang yang menderita tinnitus, apalagi sampai kondisinya parah berdampak pada terganggunya aktivitas. Maka dari itu, penting untuk melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis untuk mendapat diagnosis lengkap terkait tinnitus.