Tuli mendadak atau sudden sensorineural hearing loss (SSHL) merupakan kondisi saat seseorang kehilangan pendengaran dengan cepat. Kondisi tersebut dapat terjadi pada satu telinga atau keduanya selama beberapa hari. 

Organ pendengaran yang terserang SSHL sendiri adalah telinga bagian dalam, yaitu koklea atau saraf pendengaran. Hal tersebut terjadi karena rambut-rambut kecil atau silia mengalami kerusakan. Silia sendiri berada di telinga bagian dalam mendeteksi suara dan mengirimkannya ke otak untuk ditafsirkan.

Seseorang menderita tuli mendadak saat tidak bisa mendengar suara 30 desibel (dB) dalam tiga frekuensi yang terhubung dalam 72 jam. Padahal, suara dengan tingkat volume 30 dB adalah suara yang aman untuk telinga manusia. Kondisi tersebut biasanya terjadi secara cepat dan tidak disadari.

Berdasarkan data, sekitar setengah dari orang-orang dengan SSHL bisa mendapatkan kembali pendengarannya secara spontan. Hal tersebut terjadi dalam satu hingga dua minggu sejak onset. 

Sementara itu, 85 persen mendapatkan pendengaran kembali saat menerima perawatan dari otolaryngologist (dokter, kadang-kadang disebut THT, yang mengkhususkan diri pada penyakit telinga, hidung, tenggorokan, dan leher).

Adakah tanda-tanda sebelum terserang tuli mendadak?

Kendati terjadi secara tiba-tiba, menurut catatan Hearing Loss Association of America, mereka yang terdiagnosis mengungkapkan mendengar bunyi “letupan” yang keras sebelum tuli mendadak. Sedangkan, dalam kasus lain, penderita merasakan penuh di telinga, pusing, dan atau telinga berdenging, seperti tinnitus sebelum terjadi tuli mendadak.

  1. Hanya saja, kebanyakan penderita tuli mendadak baru sadar mengalaminya saat bangun di pagi hari.
  2. Sementara yang lain, menyadarinya saat menggunakan telepon.  

Penyebab Tuli Mendadak

Orang yang menderita tuli mendadak pada umumnya tak bisa mendengar suara 30 desibel (dB) dalam tiga frekuensi yang terhubung (frekuensi adalah ukuran nada—tinggi ke rendah). Hal tersebut, umumnya terjadi cepat dan tiba-tiba pada satu atau kedua telinga. Lantas, apa penyebabnya?

Catatan National Institute on Deafness and Other Communication Disorder menyebut ada berbagai gangguan yang memengaruhi tuli mendadak. Adapun kondisi yang memicu tuli mendadak, yaitu sebagai berikut.

  1. Infeksi
  2. Trauma kepala
  3. Penyakit autoimun
  4. Paparan obat-obatan tertentu yang mengobati kanker atau infeksi berat atau obat ototoksik yang dinilai merusak sel sensorik di telinga bagian dalam
  5. Masalah sirkulasi darah.
  6. Gangguan neurologis, seperti multiple sclerosis
  7. Gangguan pada telinga bagian dalam, seperti penyakit Ménière

Menurut catatan, 10 persen dari yang terdiagnosis SSHL memiliki penyebab yang dapat teridentifikasi dengan kondisi tersebut. Sebagian besar penyebab ini membawa kondisi atau gejala medis lain yang mengarah pada diagnosis tertentu.

Faktor lain adalah apakah gangguan pendengaran terjadi pada satu atau kedua telinga. Misalnya, jika gangguan pendengaran mendadak hanya terjadi pada satu telinga.

Maka dari itu, untuk memastikan apakah seseorang mengalami tuli mendadak atau tidak, perlu pemeriksaan lebih lanjut. Salah satunya dengan melakukan tes pendengaran audiometri nada murni (pure tone audiometry).

Diagnosis tuli mendadak

Penderita tuli mendadak akan mendapatkan pemeriksaan dari dokter spesialis beberapa hari setelah timbulnya gejala. Hal tersebut untuk mengidentifikasi gangguan pendengaran sensorineural. 

Dengan audiometri nada murni, dokter dapat mengukur seberapa keras frekuensi yang berbeda, atau nada, suara yang dibutuhkan telinga untuk mendengar. Karena, salah satu tanda SSHL adalah hilangnya setidaknya 30 desibel dalam tiga frekuensi yang terhubung dalam waktu 72 jam. Penurunan pendengaran itu membuat ucapan percakapan terdengar seperti bisikan. 

Seusai diagnosis tuli mendadak, dokter mungkin akan melakukan tes tambahan untuk mencoba menentukan penyebab yang mendasarinya. Tes-tes ini mungkin termasuk tes darah, pencitraan (biasanya pencitraan resonansi magnetik, atau MRI), dan tes keseimbangan.