Bayi baru lahir tak dapat terlepas dari kelainan, termasuk gangguan pendengaran. Untuk mencegah masalah di masa yang akan datang akibat gangguan pendengaran, beberapa rumah sakit akan melakukan skrining pendengaran terhadap bayi lahir. Karena, gangguan pendengaran, apalagi yang bersifat permanen dapat mempengaruhi perkembangan bayi.

Skrining Pendengaran

skrining pendengaran bayi
Ilustrasi bayi baru lahir perlu menjalani skrining pendengaran. (Foto: Pexels/Natalie) Isaac Hermar

Tapi, sebenarnya wajib tidak sih skrining pendengaran itu?

Menurut catatan NHS.uk, skrining pendengaran bayi baru lahir sangat dianjurkan yaitu beberapa minggu setelah lahir dan dari usia sembilan bulan hingga 2,5 tahun. Tetapi, saran tersebut kembali lagi ke orang tua, alias tidak wajib.

Artinya, tak masalah kalau orang tua memilih tidak menjalani tes skrining untuk bayinya. Hanya saja, rumah sakit atau pusat penyedia kesehatan tetap akan memberikan jadwal, agar orang tua memeriksa pendengaran bayi seiring bertambahnya usia.

Jadi, saat orang tua memiliki kekhawatiran, mereka bisa membicarakan dengan pengunjung kesehatan atau dokter umum. Sebab, penting mencari tahu lebih awal bagaimana kondisi pendengaran bayi. Agar, gangguan pendengaran tak memengaruhi perkembangan bicara dan bahasa, keterampilan sosial serta pendidikan anak.

Tak hanya tumbuh kembang anak, skrining pada bayi baru lahir dapat mencegah kondisi yang tiba-tiba memburuk di masa depan. Jadi, orang tua dapat memilih perawatan yang lebih efektif. Selain itu, orang tua dapat menentukan akses ke layanan dukungan khusus yang paling sesuai untuk sang anak.

Apakah bayi akan merasa sakit saat tes pendengaran?

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan skrining pendengaran pada bayi baru lahir mudah dan tidak menyakitkan. Bahkan, bayi sering tertidur saat menjalani tesnya. Karena, bayi hanya akan mendengar suara klik lembut saat tes berlangsung. 

Bukan hanya itu, waktu bayi menjalani skrining pendengaran pun sangat singkat. Biasanya, waktu untuk menyaring pendengaran bayi baru lahir berlangsung beberapa menit saja. 

Ada dua macam metode untuk skrining bayi baru lahir, yaitu sebagai berikut.

1. Automated Auditory Brainstem Response (AABR) atau Auditory Brainstem Response (ABR)

Automated Auditory Brainstem Response (AABR) atau Auditory Brainstem Response (ABR) atau tes respons batang otak auditori adalah tes yang aman dan tidak menyakitkan. Tes ini untuk melihat bagaimana saraf pendengaran dan otak merespons suara.

Sehingga, penyedia layanan kesehatan mengetahui informasi tentang seberapa baik suara bergerak dari saraf pendengaran ke batang otak atau kemungkinan gangguan pendengaran.

Dalam menjalani tes AABR atau ABR, bayi hanya perlu melewati satu tes saja. Ketika otaknya menunjukkan bahwa ia mendengar suara, bayi dinyatakan lulus. Namun, bayi gagal dalam tes saat tak ada respons terhadap suara.

2. Otoacoustic Emissions (OAE)

Tes Otoacoustic Emissions (OAE) atau emisi otoakustik bergua untuk mengukur fungsi sel rambut di telinga bagian dalam. Emisi otoakustik sendiri adalah suara yang dikeluarkan oleh satu bagian kecil koklea ketika dirangsang oleh suara klik lembut. Ketika suara merangsang koklea, sel-sel rambut luar bergetar. Getaran menghasilkan suara yang hampir tidak terdengar yang bergema kembali ke telinga tengah.

Baca Juga : Tuli Mendadak Tanda Darurat Medis, Segeralah ke Dokter !

Bagaimana kalau bayi tak lulus skrining pendengaran?

Bayi yang tidak lulus skrining pendengaran akan melanjutkan tes pendengaran dengan audiolog. Audiolog adalah profesional perawatan kesehatan yang mengidentifikasi, menilai, dan mengelola gangguan pendengaran, keseimbangan, dan sistem saraf lainnya. 

Audiolog akan menentukan jenis tes lanjutan pendengaran. Hasil tes tersebut untuk mengetahui apakah bayi mengalami gangguan pendengaran, berapa banyak gangguan pendengaran yang ada, dan jenis gangguan pendengaran yang dialami.