Tuli mendadak atau sudden sensorineural hearing loss (SSHL) adalah kondisi yang terjadi saat seseorang kehilangan pendengaran dengan cepat. Seseorang dikatakan tuli mendadak ketika tak bisa mendengar suara 30 desibel (dB) dalam tiga frekuensi yang terhubung.

Keadaan tersebut membuat penderita kehilangan pendengaran pada satu atau kedua telinganya. Karena terjadi secara tiba-tiba, tak ada gejalanya. Beberapa kasus muncul saat mereka bangun tidur. Sedangkan penderita lain, sadar ketika akan menggunakan telepon.

Sementara itu, yang lain mengungkapkan mereka mendengar bunyi “letupan” yang keras sebelumnya. Selain tanda-tanda tersebut, orang dengan serangan tersebut bisa merasakan hal lain. Misalnya, perasaan penuh di telinga, pusing, dan atau telinga berdenging, seperti tinnitus.

Penyebab tuli mendadak

Belum ada yang mengetahui secara pasti penyebab tuli mendadak. Berdasarkan catatan Australian Family Physician, kasus ini terjadi karena trauma dan sebagian besar karena defisit konduktif serta penyebab lain.

1. Schwannoma vestibular

Schwannoma vestibular atau neuroma akustik adalah lesi jinak yang muncul dari sel schwann saraf vestibular. Ini terdiri dari delapan persen dari semua tumor intrakranial. Neurofibromatosis tipe 2 terdiri dari lima persen, sedangkan 95 persen lainnya bersifat sporadis. Tujuh sampai 20 persen dari 95 persen pasien dengan schwannoma vestibular menderita tuli mendadak.

2. Pembuluh darah

Ada perdebatan mengenai peran faktor risiko kardiovaskular dalam patogenesis tuli mendadak. Studi pun belum dapat menentukan efek kausal yang pasti. Hanya saja, pasien dengan diabetes mellitus dan penyakit jantung koroner memiliki risiko lebih besar terkena sudden sensorineural hearing loss. Risikonya meningkat sesuai dengan tingkat keparahan penyakit yang mendasarinya.

3. Penyebab lainnya

Sarkoidosis adalah kondisi langka yang menyebabkan bercak kecil jaringan merah dan bengkak, yang disebut granuloma, berkembang di organ tubuh. Sekitar 0,5 persen pasien dengan sarkoidosis memiliki keterlibatan saraf kranial kedelapan.

Selain itu, penyakit yang juga menimbulkannya adalah sifilis, virus sistemik umum serta lupus eritematosis sistemik dan penyakit autoimun lainnya.

Bagaimana cara menilai seseorang tuli mendadak?

Menurut Hearing Loss Association of America seseorang menderita tuli mendadak saat tidak bisa mendengar suara 30 desibel (dB) dalam tiga frekuensi yang terhubung. Untuk menentukan berapa besarnya, perlu melakukan pemeriksaan, yaitu tes pendengaran audiometri nada murni (pure tone audiometry).

Dengan tes tersebut dokter akan mengukur seberapa keras nada dalam frekuensi berbeda atau suara yang dibutuhkan sebelum telinga mendengar. Karena, salah satu tanda SSHL adalah hilangnya setidaknya 30 desibel dalam tiga frekuensi yang terhubung dalam waktu 72 jam. Penurunan pendengaran itu akan membuat ucapan percakapan terdengar seperti bisikan. 

Seusai diagnosis tuli mendadak, dokter mungkin akan melakukan tes tambahan, seperti tes darah, pencitraan (biasanya pencitraan resonansi magnetik, atau MRI), dan keseimbangan.

Bagaimana pengobatannya?

Pengobatan yang paling umum, terutama bila penyebabnya tak pasti adalah steroid. Obat tersebut berguna mengurangi peradangan, pembengkakan, dan membantu tubuh melawan penyakit.

Dokter sebelumnya memberikan steroid dalam bentuk pil. Tapi, pada 2011, uji klinis dengan dukungan NIDCD menunjukkan injeksi steroid intratimpani (melalui gendang telinga) sama efektifnya dengan steroid oral.

Usai penelitian itu, dokter mulai meresepkan injeksi steroid intratimpani langsung ke telinga tengah. Sehingga, obat langsung mengalir ke telinga bagian dalam. Dengan begitu, orang yang tidak dapat menggunakan steroid oral atau ingin menghindari efek sampingnya dapat memilih opsi tersebut.

Sementara itu, perawatan tambahan terhadap penderitanya, seperti karena ada infeksi, kemungkinan kan menerima obat antibiotik. Obat-obatan yang bersifat racun bagi telinga akan beralih ke obat lain. Lain hal lagi, ketika penderita memiliki autoimun dan menyerang telinga bagian dalam. Dokter mungkin akan meresepkan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh.