Anak-anak yang terdiagnosis gangguan dengar, mungkin tidak tahu harus melakukan tindakan apa ke depannya. Maka dari itu, diperlukan peran dari orang tua untuk mempersiapkan langkah anaknya. Apa saja intervensi yang perlu dipersiapkan ketika terdiagnosis gangguan dengar pada anak?

Berikut intervensi untuk anak dengan gangguan pendengaran seperti dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

  • Alat bantu dengar atau implan koklea, berdasarkan rekomendasi dari dokter THT atau audiolog.
  • Rehabilitasi yang dapat mencakup: aural rehabilitasi, terapi bicara dan bahasa, auditory verbal therapy, cued speech (isyarat gerakan tangan untuk melengkapi membaca ujaran), dan total communication (menggabungkan semua sarana komunikasi; tanda-tanda formal, gerak tubuh alami, pengejaan jari, bahasa tubuh, mendengarkan, membaca gerak bibir, dan berbicara).
  • Mempelajari bahasa isyarat, terutama ketika alat bantu dengar tidak tidak disukai, tidak menguntungkan atau tidak tersedia. Langkah ini dilakukan untuk memastikan anak bisa berkomunikasi dan mendapatkan pendidikan
  • Keluarga, pengasuh, dan guru harus memberi dukungan terhadap anak yang menjalani rehabilitasi dan menggunakan alat bantu dengar (ABD) atau implan koklea. Bila perlu, mereka ikut belajar bahasa isyarat.
  • Konseling dan dukungan dari kelompok sebaya untuk anak, pengasuh maupun keluarga.

Sebagai catatan, intervensi dini ini mengarah pada hasil yang lebih baik pada anak-anak. Misalnya, pada bayi yang didiagnosis gangguan pendengaran tiga bulan setelah kelahiran dan intervensi dilaksanakan pada usia enam bulan. Haslinya, bayi dapat mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa seperti bayi seusianya yang memiliki pendengaran normal.