Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan 430 juta orang atau lima persen populasi dunia memerlukan rehabilitasi untuk mengatasi gangguan pendengaran. WHO pun menggolongkan orang yang mengalami gangguan dengar dengan tes menggunakan audiogram.

Berikut deskripsi tingkatan kehilangan pendengaran acuan WHO.

  1. Normal: 0 < 20 decibel (dB). Artinya tidak ada masalah saat mendengar suara.
  2. Ringan: 20 < 35 dB. Kemungkinan merasa kesulitan saat mendengar apa yang dikatakan orang lain di tempat yang bising.
  3. Sedang: 35 < 50 dB. Kemungkinan kesulitan mendengarkan percakapan, khususnya di tempat bising. 
  4. Cukup Parah: 50 < 65dB . Kemungkinan kesulitan ikut serta dalam perbincangan, khususnya di tempat bising. Sebagian besar, dapat mendengar suara yang dinaikkan tanpa kesulitan.
  5. Parah: 65 < 80 dB. Tidak dapat mendengar sebagian besar obrolan dan kesulitan juga mendengar suara dengan nada tinggi. Kesulitan ekstrem mendengar di tempat bising dan ikut serta saat berbincang.
  6. Sangat Parah: 80 < 95 dB. Kesulitan ekstrem mendengar suara dengan nada tinggi.
  7. Gangguan Pendengaran Total/ Tuli: 95 dB atau lebih besar dari itu. Tidak bisa mendengar pembicaraan dan sebagian besar suara lingkungan.

Seusai melakukan tes audiogram dan lainnya, WHO menentukan berapa besar hasilnya. Maka WHO menyebutkan seseorang dengan pendengaran yang parah atau dalam kehilangan di kedua telinga, sering disebut tuli. Sedangkan seseorang dengan gangguan pendengaran yang tidak terlalu parah, disebut sebagai gangguan pendengaran.

Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tuli artinya tidak dapat mendengar (karena rusak pendengarannya); pekak; tunarungu. Lalu penulisan dengan huruf kapital semua, yaitu tidak bisa mendengar dan menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.