Orang dewasa yang diduga menderita gangguan pendengaran mesti mendapat dukungan dari keluarga atau orang-orang terdekatnya. Pasalnya, gangguan pendengaran yang tak tertangani berpotensi memengaruhi kesehatan mental, perasaan kesepian, kecemasan, dan depresi. Terutama bagi orang tua lanjut usia (lansia).

Untuk mencegah dampak buruk terhadap gangguan pendengaran, Organisasi Kesehatan Manusia (WHO) merekomendasikan dua hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Mendorong orang tersebut menjalani pemeriksaan gangguan dengar dengan metode audiometri nada murni. Pemeriksaan audiometri nada murni bisa dilakukan di klinik atau fasilitas kesehatan lain.
  2. Orang dewasa yang memiliki smartphone melakukan pemeriksaa dengan aplikasi hearWHO secara gratis. Aplikasi tersebut bisa dijadikan sebagai tes awal menentukan gangguan dengar. Jika skor yang didapatkan di bawah 50, sudah pasti mereka harus menjalani tes pendengaran lanjutan tanpa penundaan.

Gimana memperkirakan orang dewasa menderita gangguan pendengaran?

  • Tidak merespon saat dipanggil atau mungkin merespons secara tidak tepat.
  • Berbicara lebih keras dari biasanya (karena suara mereka sendiri terdengar rendah).
  • Mengalami kesulitan berbicara melalui telepon.
  • Menarik diri, pendiam, dan terpencil.
  • Membesarkan volume untuk mendengarkan TV atau mendengarkan musik.
  • Dia dapat mendengar tetapi tidak dapat mengerti dengan apa yang dikatakan orang lain.
  • Bicara tidak jelas.
  • Mengalami kesulitan mendengar frekuensi tinggi karena terdengar seperti bel pintu atau telepon berdering.
  • Keluhan suara berdenging di telinga (tinitus).
  • Memiliki riwayat sekret telinga.