Cari tahu tentang lokasi kami?

Gangguan Pendengaran

Anda pasti tahu, telinga berperan sebagai organ pendengaran dan keseimbangan manusia. Setiap bagian telinga, yaitu luar, tengah, dan dalam mempunyai fungsi berbeda-beda dan saling berkaitan. Tugas utamanya menyediakan informasi bunyi ke otak agar manusia bisa mendengar.

Tapi, apa jadinya jika salah satu satu bagian telinga bermasalah? Jawabannya, akan terjadi gangguan pendengaran.

Lalu, apa itu gangguan pendengaran?
Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan mendengar salah satu atau kedua telinga. Kondisi ini membuat penderitanya tidak bisa mendengar, seperti orang yang memiliki pendengaran normal. Artinya, ia akan merasa kesulitan saat mendengarkan bunyi atau suara di berbagai kondisi.
Lalu, apa sih penyebab gangguan pendengaran? Berikut penjelasan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Penyebab Gangguan Pendengaran

Berbagai faktor bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan pendengaran. Berdasarkan catatan dari American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), berikut penjelasan mengenai tipe gangguan dengar dan penyebabnya.
1. Gangguan Pendengaran Konduktif
Gangguan pendengaran konduktif adalah kondisi ketika suara tidak dapat melewati telinga bagian luar dan tengah. Akibatnya, penderita akan kesulitan mendengar suara lirih dan suara nyaring terdengar teredam. Adapun penyebab gangguan pendengaran konduktif, di antaranya sebagai berikut:
  • malformasi telinga luar, saluran telinga, atau telinga tengah, seperti mikrotia, tidak terbentuknya daun telinga atau adanya kelainan pada tulang pendengaran
  • tumor jinak (misalnya neuroma akustik, schwannoma vestibular)
  • ada cairan di telinga bagian tengah (misalnya dari infeksi saluran pernapasan atas atau infeksi telinga tengah);
  • trauma kepala (misalnya, fraktur tengkorak, kerusakan membran timpani atau struktur telinga tengah);
  • penumpukan dan penyumbatan saluran telinga akibat kotoran atau serumen;
  • infeksi saluran telinga (misalnya otitis eksternal, telinga perenang);
  • otitis media atau terjadi infeksi telinga bagian tengah;
  • otosklerosis, yaitu pertumbuhan tulang telinga bagian tengah yang tumbuh tidak normal;
  • pecahnya gendang telinga akibat robeknya membran timpani;
  • saluran eustachius saluran yang menghubungkan bagian tengah telinga dan nasofaring atau bagian atas tenggorokan yang terletak di bagian belakang rongga hidung tidak berfungsi dengan baik
  • adanya benda asing.
2. Gangguan Pendengaran Sensorineural
Gangguan pendengaran sensorineural terjadi karena ada kerusakan di telinga bagian dalam. Gangguan pendengaran senorineural juga bisa terjadi karena ada masalah dengan jalur saraf dari telinga bagian dalam ke otak. Berikut beberapa sebab yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan pendengaran sensorineural.
  • Penyakit telinga bagian dalam autoimun (sistem kekebalan menyerang telinga bagian dalam)
  • Tumor jinak (misalnya neuroma akustik, schwannoma vestibular)
  • Sindrom saluran air vestibular yang membesar (kelainan bawaan telinga bagian dalam yang dapat menyebabkan gangguan vestibular dan gangguan pendengaran)
  • Penyebab genetik, baik sindrom (misalnya sindrom CHARGE, sindrom Pendred, sindrom Waardenburg) dan nonsindromik (misalnya, mutasi genetik)
  • Trauma kepala (misalnya kerusakan telinga bagian dalam, cedera otak traumatis)
  • Infeksi (bakteri, virus, parasit), termasuk sitomegalovirus, herpes, labirinitis, campak, meningitis, penyakit gondok, toksoplasmosis, dan sipilis
  • Penyakit Ménière yaitu, penyakit telinga bagian dalam yang dapat menyebabkan vertigo, tinnitus, dan gangguan pendengaran yang berfluktuasi
  • Paparan kebisingan
  • Obat-obatan dan bahan kimia ototoksik, misalnya, rejimen kemoterapi, antibiotik aminoglikosida
  • Presbikusis, yaitu penunurunan kemampuan pendengaran seiring pertambahan usia
  • Defisit vaskular, misalnya, insufisiensi vertebrobasilar, anemia sel sabit; pascaoperasi.
3. Gangguan Pendengaran Campuran
Gangguan pendengaran campuran adalah kombinasi antara gangguan pendengaran konduktif dan sensorineural. Oang yang menderita gangguan dengar campuran, biasanya akan mengalami gangguan pendengaran konduktif, lalu terjadi gangguan sensorineural.
Namun, bisa juga dalam satu waktu terjadi kerusakaan bersamaan di telinga luar, tengah, dan telinga bagian dalam atau jalur saraf ke otak. Bukan hanya sulit mendengar suara lirih dan nyaring, penderita gangguan dengar campuran akan merasa pendengarannya lebih buruk dari itu.
4. Sinaptopati Koklea atau Gangguan Pendengaran Tersembunyi
Sinaptopati koklea disebut juga gangguan pendengaran tersembunyi terjadi karena sel-sel rambut di telinga mengalami kerusakan. Jenis gangguan pendengaran ini disebut “tersembunyi”, karena kadang tidak disadari penderitanya. Bahkan, tidak dapat teridentifikasi saat penderitanya melakukan pemeriksaan audiometri nada murni standar (Barbee et al., 2018).
Salah satu ciri orang mengalami gangguan pendengaran tersembunyi adalah kesulitan saat mendengar suara dan memahami ucapan di lingkungan yang bising. Mereka cenderung lebih nyaman mendengar suara di lingkungan yang sunyi dan tenang. Adapun penyebab dari gangguan pendengaran tersembunyi, yaitu penuaan, obat-obatan ototoksik, dan paparan kebisingan (Kohrman et al., 2020).

Tanda-tanda Gangguan Pendengaran

Seusai mengetahui penyebab gangguan pendengaran, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi ciri-cirinya. Sebab, bisa jadi semua orang mengklaim mengalami masalah pendengaran atau sebaliknya, mengelak saat disebut menderita gangguan pendengaran.
Oleh karena itu, ada beberapa tanda yang bisa dijadikan dasar bahwa seseorang memiliki masalah gangguan pendengaran.
Dua Ciri gangguan pendengaran seperti dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
  1. Seseorang yang tidak dapat mendengar di ambang normal, yaitu 20 decibel (dB).
  2. Kesulitan saat mendengar percakapan atau suara keras.
10 tanda dan gejala gangguan pendengaran pada orang dewasa atau 18 tahun ke atas menurut American Speech-Language-Hearing Association (ASHA)
  1. Menghindari lingkungan sosial dan atau mengurangi partisipasi dalam kegiatan
  2. Konsisten meminta orang lain mengulang ucapannya
  3. Kesulitan memahami ucapan dalam kebisingan, dari pembicara bernada tinggi, dan atau di telepon
  4. Ucapan orang lain terdengan sebagai “gumam”
  5. Meningkatkan volume di televisi dan perangkat lain
  6. Kelelahan mendengarkan
  7. Persepsi pendengaran “teredam”
  8. Tinitus
  9. Kesulitan mendengar konsonan atau huruf mati
  10. Berbicara terlalu keras atau terlalu pelan

Gangguan Pendengaran Bayi dan Anak-anak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 34 juta anak-anak di dunia memerlukan rehabilitasi untuk mengatasi gangguan pendengaran. Dengan kata lain, gangguan dengar bukan lagi masalah orang dewasa saja.
Sama halnya dengan gangguan dengar pada orang dewasa, banyak faktor yang memengaruhi bagaimana seorang bayi baru lahir mau pun anak-anak menderita gangguan dengar. Apa saja penyebabnya?
Gangguan pendengaran pada anak-anak dan remaja bisa disebabkan oleh infeksi telinga kronis, yaitu:
  • otitis media supuratif kronis
  • kumpulan cairan di telinga atau otitis media nonsupuratif kronis
  • meningitis serta infeksi lainnya.
Sementara itu, bayi 0 bulan yang mengalami gangguan pendengaran dipengaruhi dua periode masa kritis dalam hidupnya, yaitu:
  • periode pranatal (masa sebelum lahir)
  • periode perinatal (sekitar waktu kelahiran)
Ada dua faktor yang memengaruhi bagaimana bayi terdiagnosis gangguan pendengaran, pertama faktor genetik (termasuk gangguan pendengaran herediter dan non-herediter) dan kedua, infeksi intrauterin, seperti infeksi rubella dan cytomegalovirus.
Sedangkan periode perinatal (parilahir) merupakan periode yang muncul sekitar pada waktu kelahiran (lima bulan sebelumnya dan satu bulan sesudahnya). Faktor yang memengaruhi bayi mengalami gangguan pendengaran, di antaranya yaitu sebagai berikut.
  1. Asfiksia lahir (kekurangan oksigen pada saat lahir),
  2. Hiperbilirubinemia (ikterus parah pada periode neonatal)
  3. Berat badan lahir rendah
  4. Morbiditas perinatal lainnya

Ciri- ciri Gangguan Pendengaran Bayi dan Anak-anak

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, tanda-tanda gangguan pendengaran pada bayi maupun anak-anak mungkin saja berbeda-beda. Namun, ada lima ciri-ciri yang menandakan bayi tengah mengalami gangguan pendengaran, yaitu sebagai berikut.
  1. Tidak kaget ketika mendegar suara keras.
  2. Tidak menoleh ke sumber suara setelah usia enam bulan.
  3. Tidak mengucapkan sepatah kata pun, seperti “dada” atau “mama” pada usia satu tahun.
  4. Bayi berpaling ketika melihat Anda, tetapi tidak jika Anda hanya memanggil namanya. Hal ini terjadi, karena mungkin bayi  kehilangan pendengaran sebagian atau seluruhnya.
  5. Tampak mendengar beberapa suara tetapi tidak yang lain.
Sedangkan, anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran dinilai dengan lima tanda sebagai berikut.
  1. Keterlambatan berbicara (speech delay)
  2. Ucapan tidak jelas
  3. Tidak mengikuti petunjuk. Hal ini terkadang disalahartikan karena tidak memperhatikan atau hanya mengabaikan, tetapi bisa jadi merupakan akibat dari kehilangan pendengaran sebagian atau seluruhnya
  4. Sering berkata, “Hah?”
  5. Menaikkan volume TV terlalu tinggi.

Bagaimana menilai gangguan pendengaran?

Semua usia bisa mengalami gangguan pendengaran, mulai dari bayi usia 0 bulan hingga orang tua lanjut usia (lansia). Maka dari itu, harus dilakukan diagnosis untuk mengetahui seberapa parah gangguan dengar yang diderita.
Tingkat keparahan gangguan dengar masing-masing individu berbeda. Adapun derajat gangguan pendengaran secara umum, yaitu sebagai berikut.
  1. Gangguan pendengaran ringan. Orang dengan gangguan pendengaran ringan mulai mengalami kesulitan mengikuti percakapan, terutama di lingkungan yang bising.
  2. Gangguan pendengaran sedang. Orang dengan gangguan pendengaran sedang mengalami kesulitan mengikuti percakapan ketika mereka tidak menggunakan alat bantu dengar.
  3. Gangguan pendengaran berat. Orang dengan gangguan pendengaran berat bergantung pada alat bantu dengar untuk dapat berkomunikasi. Tetapi, ada juga yang mengandalkan kemampuannya membaca bibir, meskipun menggunakan alat bantu dengar.
  4. Gangguan pendengaran sangat berat. Orang dengan gangguan pendengaran sangat berat bakal sulit mendengar. Biasanya, mereka sudah bergantung pada membaca bibir dan bahasa isyarat.
Sedangkan menurut catatan American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), derajat gangguan pendengaran ditentukan setelah melakukan tes kemampuan dengar dengan audilog. Hasilnya kemudian dibagi menjadi sebagai berikut.  
  1. Normal: memiliki kemampuan mendengar suara -10 sampai 15 decibel (dB)
  2. Sedikit: memiliki kemampuan mendengar suara 16 sampai 25
  3. Ringan: memiliki kemampuan mendengar suara 26 sampai 40
  4. Sedang: memiliki kemampuan mendengar suara 41 sampai 55
  5. Cukup Parah: memiliki kemampuan mendengar suara 56 sampai 70
  6. Parah: memiliki kemampuan mendengar suara 71 sampai 90 dB
  7. Amat sangat parah: memiliki kemampuan mendengar suara 91+dB.

Mengapa Gangguan Pendengaran Perlu Ditangani?

Gangguan pendengaran perlu penanganan dari ahli kesehatan sesegera mungkin. Lantaran, akan menimbulkan dampak besar bagi penderitanya. Bukan hanya kesehatan fisik, gangguan dengar dapat memengaruhi kesehatan mental hingga mengubah masa depan seseorang.
Dampak Gangguan Dengar Anak
Organisasi Kesehatan Manusia (WHO) menuturkan bayi dan anak-anak belajar berbicara berdasarkan apa yang didengar di sekitar agar keterampilan menyimak dan berbahasa lisannya berkembang, maka harus bisa mendengar suara orang yang bicara.
Bagaimana jika anak menderita gangguan dengar total (tuli) dan orang tua tak memiliki kesadaran untuk memeriksakannya?
Ketika bayi lahir tuli dan tidak menerima intervensi yang sesuai, kemampuan bicara dan bahasanya tidak akan bisa berkembang (termasuk keterampilan bahasa isyarat).
Artinya anak tersebut akan tertinggal dari anak-anak lain dengan pendengaran yang baik. Tanpa diagnosis dini dan rehabilitasi yang tepat, anak tersebut bakal kesulitan pergi ke sekolah, belajar, berteman, dan mendapatkan pekerjaan di kemudian hari.
Bagaimana dengan anak yang kedua telinganya infeksi dan mengalami gangguan pendengaran sedang?
Anak yang mengalami gangguan dengar sedang (sering kehilangan suku kata dan kata-kata ketika mendengar orang lain bicara) juga akan mengalami masalah dalam hidupnya. Lantaran, anak-anak membutuhkan komunikasi yang baik untuk belajar dengan baik di sekolah dan memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di sekitar.
Akibat gangguan pendengaran, anak tersebut tidak akan mengerti sepenuhnya ketika gurunya menerangkan pelajaran di kelas. Apalagi, saat suara guru menjauh darinya atau ketika dia duduk bangku belakang. Ketika guru mengajukan pertanyaan, anak tersebut juga sulit memahami pertanyaannya. Sehingga, guru menganggap dia tak tertarik pada pelajaran itu.
Tak hanya di sekolah, anak tersebut bakal kesulitan berkomunikasi dengan orang tuanya di rumah. Lantaran, tidak ada respons ketika orang tuanya memanggil dan sebaliknya. Selain itu, anak akan menaikan volume televisi karena tidak bisa mendengar dengan jelas. Jika infeksi tidak diobati, kemungkinan anak tersebut akan ketinggalan secara akademis.
Dampak Gangguan Dengar Dewasa
Tak hanya anak-anak, orang tua lanjut usia (lansia) juga bisa mendapatkan masalah saat menderita gangguan pendengaran. Hanya saja, dampak yang dialami anak-anak dengan lansia berbeda.
Misalnya, nenek usia 70 tahun mengalami gangguan pendengaran. Dia tinggal bersama keluarganya. Namun, ketika semua anggota berkumpul dan berbincang, ia merasa kesulitan. Dia tidak dapat memahami dan mengerti dengan apa yang dikatakan anak-anaknya.
Saat menonton televisi, ia secara otomatis bakal menaikkan volume sangat tinggi. Lantaran, nenek tersebut tidak bisa mendengar dengan jelas. Anggota keluarga lain akhirnya mengeluh tentang hal itu.
Seperti dilansir dari Organisasi Kesehatan Manusia (WHO), lansia yang menderita gangguan dengar seharusnya mendapat dukungan dari keluarga. Sebab, saat gangguan pendengaran tidak tertangani kemungkinan akan memengaruhi kesehatan mental, perasaan kesepian, kecemasan, dan depresi. Tak hanya itu, lansia pun berpotensi terisolasi secara sosial.
Ia mulai menghindari pertemuan sosial. Ia juga lebih memilih untuk tinggal di kamarnya ketika keluarganya sedang bersenang-senang. Karena, terkadang anggota keluarga yang lebih muda menertawakan dirinya, ketika salah mengerti pertanyaannya atau menjawab dengan salah. Dampak kejadian itu, akan membuat sang nenek terluka dan kesepian.

Ke Mana Harus Melakukan Pemeriksaan?

Untuk mencegah gangguan pendengaran terjadi atau mencari solusi karena sudah menderita gangguan pendengaran, lakukan konsultasi dengan dokter terkait. Pemeriksaan bisa dilakukan di rumah sakit atau ke Kasoem Hearing Center.
Anda dapat mengonsultasikan keluhan terkait gangguan pendengaran secara gratis. Tim Kasoem Hearing Center akan memberikan pelayanan maksimal dan mencari solusi agar Anda dapat mendapatkan pendengaran dengan baik.
Sejumlah tahap pemeriksaan akan dijalani bagi orang yang diduga mengalami gangguan dengar. Salah satu yang tersedia di Kasoem Hearing Center adalah pemeriksaan keseimbangan, terdiri dari videonystagmography (VNG), video head impulse test (vHIT), dan vestibular evoked myogenic potential (VEMP).
Kemudian, ada pemeriksaan yang harus dijalani selanjutnya, untuk dewasa antara lain, yaitu audiometri nada murni, audiometri tutur, hearing in noise test (HINT), audiometri immitans, otoacoustic emission (OAE), auditory brainstem response (ABR).
Sedangkan untuk anak-anak, tersedia pemeriksaan play audiometry, audiometri tutur (tes fungsi persepsi), behaviour observation audiometry (BOA), visual reinforcement audiometry (VRA) audiometry immitans, otoacoustic emission (OAE), auditory brainstem response (ABR), dan auditory steady-state response (ASSR).
Open chat
1
Ingin konsultasi lebih dekat?
HELP