Cari tahu tentang lokasi kami?

Pemeriksaan Pendengaran Anak-anak

Setiap anak yang lahir ke dunia tidak bisa terhindar dari risiko kelainan maupun penyakit. Salah satunya, gangguan dengar. Jika sudah ada tanda-tandanya, orang tua harus memastikan agar anak harus menjalani tes gangguan dengar. Pemeriksaan pendengaran merupakan tes untuk mengetahui kemampuan mendengar kedua telinga terhadap suara. Tes ini wajib dijalankan semua usia, tak terkecuali bayi, balita, anak prasekolah, dan anak usia sekolah untuk mendeteksi lebih dini seberapa parah gangguan dengar yang diderita. Kasoem Hearing Center menyediakan layanan pemeriksaan bagi anak-anak. Sebagai satu-satunya hearing center yang mengantongi sertifikasi ISO 9001 2015, pemeriksaan di Kasoem Hearing Center dilakukan oleh dokter spesialis di bidangnya.

Layanan pemeriksaan seperti apakah yang disediakan Kasoem Hearing Center untuk anak-anak? Berikut penjelasannya.

Berikut pemeriksaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi masalah gangguan pendengaran pada anak-anak.

1. Play Audiometry
Play audiometry merupakan tes untuk mengukur kemampuan anak membedakan antara intensitas suara yang berbeda, mengenali nada, atau membedakan ucapan dari latar belakang bising. Tes ini idealnya dijalankan oleh anak rentang usia dua hingga lima tahun. Tes ini tetap menggunakan audimeter untuk mengukurnya. Anak-anak akan diminta memakai headphone terpisah untuk telinga kanan dan kiri. Kemudian, anak diperdengarkan suara melalui headphone. Setiap anak mendengar suara, anak diminta melakukan tugas berulang menggunakan mainan yang tersedia. Misalnya, membangun menara balok, meletakkan bantalan pada pegangan, melempar mainan ke dalam wadah, dan lain-lain. Catatan play audiometry, yakni sebagai berikut.
  • Tes membutuhkan kerja sama dan kontak yang baik dengan anak
  • Tidak menimbulkan rasa sakit dan non-invasif
  • Membutuhkan waktu sekitar 20-50 menit
  • Membutuhkan lingkungan akustik yang tepat
  • Membutuhkan daya tarik.
Hasil dari pemeriksaan play audiometry dapat memberi informasi terkait derajat dan jenis gangguan pendengaran serta konfigurasi audiogram.
2. Audiometri Tutur (Tes Fungsi Persepsi)
Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak juga menjalani tes audimetri tutur (tes fungsi persepsi). Pemeriksaan ini menjelaskan kemampuan optimal anak-anak menerjemahkan kata-kata yang didengarnya.
Pada pemeriksaan ini anak akan diperdengarkan rangkaian kata-kata atau gambar objek yang dikenalinya, misalnya, kucing, guling, kunci, gunting dan lain sebagainya dengan volume suara yang berbeda-beda. Kemudian anak diminta untuk mengulangi kata atau menunjuk gambar yang didengarnya tersebut.
3. Behaviour Observation Audiometry (BOA)
Behaviour Observation Audiometry (BOA) merupakan tes untuk mengamati perilaku atau respons anak usia 0 hingga lima bulan saat diperdengarkan beberapa jenis suara. Tes BOA ini bermanfaat untuk menentukan batas dengar dan bagaimana fungsi alat bantu dengar pada anak.
Pada pemeriksaan ini, anak akan diperdengarkan suara dari speaker yang ada di sisi kanan dan kiri anak dengan volume suara yang kuat sampai dengan terkecil. Hasilnya, tergantung dari respon anak tersebut. Misalnya hanya diam, mata melebar, kaget, menoleh, atau tersenyum saat mendengar bunyi.
4. Visual Reinforcment Audiometry (VRA)
Visual Reinforcment Audiometry (VRA) adalah tes yang dirancang untuk menilai pendengaran anak-anak berusia enam bulan hingga sekitar dua hingga tiga tahun. Selain itu, VRA memungkinkan audilog melatih anak-anak dalam merespons suara.
Tes VRA hampir sama dengan BOA. Anak akan diperdengarkan suara dari speaker yang ada di sisi kanan dan kiri anak dengan volume suara yang kuat sampai dengan terkecil. Bedanya, di sisi speaker ditempatkan perangkat visual seperti animasi video di monitor atau boneka. Jadi, ketika muncul suara dari arah monitor atau boneka diharapkan anak tersebut menoleh sebagai respon bahwa dia mendengar suara.
5. Audiometry Immitans
Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga perlu menjalani pemeriksaan audiometry immitans. Tes ini menunjukan ada atau tidaknya masalah pada telinga bagian tengah yang mengalami gangguan pendengaran. Ada tiga jenis pemeriksaan audiometrri yang dilakukan doker kepada pasiennya, terdiri dari:
  1. Timpanometri, yaitu pemeriksaan untuk mengetahui kondisi telinga tengah;
  2. Tes fungsi Tuba, yaitu pemeriksaan untuk mengetahui fungsi tuba eustachius (saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasopharing);
  3. Refleks Akustik, pemeriksaan untuk mengetahui fungsi dari jalur refleks akustik.
Pada pemeriksaan ini, dokter akan memasang sumbata telinga kepada anak-anak. Sumbat telinga tersebut akan mengeluarkan beberapa jenis bunyi dengan tingkat volume suara dan tekanan yang berbeda-beda.
6. Otoacoustic Emission (OAE)
Otoacoustic Emission (OAE) merupakan tes untuk mengetahui seberapa baik telinga bagian telinga bagian dalam atau koklea (saluran berbentuk seperti siput dengan 2,5 lingkaran atau spiral yang membentuk dua pertiga putaran dan mengitari pusat tulang yang disebut modiolus) menjalankan fungsinya.
Bukan orang hanya orang dewasa, anak-anak juga perlu menjalankan tes OAE. Saat pemeriksaan, sumbat telinga yang mengeluarkan beberapa jenis bunyi akan dipasangkan kepada anak-anak. Kemudian, sel-sel rambut di telinga bagian dalam luar koklea akan mengeluarkan bunyi yang kemudian akan direkam oleh alat OAE.
7. Auditory Brainstem Response (ABR)
Tes untuk melihat bagaimana saraf pendengaran dan otak merespons suara atau auditory brainstem response (ABR) pun dilakukan untuk anak-anak. Tes ABR tidak menyakitkan.
Pada pemeriksaan ini anak-anak akan memakai headphone dan elektroda yang ditempelkan di area belakang telinga dan dahi yang terhubung dengan komputer. Aktivitas gelombang otak sebagai respons terhadap suara yang didengar melalui earphone akan terekam.
8. Auditory Steady-State Response (ASSR)
Pemeriksaan auditory steady-state response (ASSR) hampir sama seperti auditory brainstem response (ABR). Keduanya, memakai headphone dan elektroda yang ditempelkan di area belakang telinga dan dahi yang terhubung dengan komputer saat dilakukan pemeriksaan.
Hanya saja, tetap ada perbedaannya pada ASSR dan ABR. Seperti dilansir dari The Hearing Review, ASSR menggunakan amplitudo dan fase dalam domain spektral (frekuensi) daripada bergantung pada amplitudo dan latensi.
ASSR juga bergantung pada deteksi puncak di seluruh spektrum, ketimbang deteksi puncak melintasi waktu versus bentuk gelombang amplitudo. Selain itu, ASSR dibangkitkan menggunakan rangsangan suara berulang yang disajikan pada tingkat pengulangan yang tinggi, sedangkan ABR dibangkitkan menggunakan suara singkat yang disajikan pada tingkat pengulangan yang relatif rendah.
Open chat
1
Ingin konsultasi lebih dekat?
HELP