Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan 34 juta anak-anak di seluruh dunia menderita gangguan pendengaran. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen penyebabnya dapat dicegah.

Hal-hal untuk mencegah gangguan pendengaran pada anak-anak adalah sebagai berikut.

Pencegahan Gangguan Pendengaran Anak-anak

Imunisasi

Lebih dari 30 persen gangguan pendengaran pada masa kanak-kanak penyebabnya adalah infeksi virus seperti rubella, cytomegalovirus, gondongan, meningitis, campak, dan infeksi telinga kronis. Sementara itu, meningitis dan rubella bersama-sama bertanggung jawab atas lebih dari 19 persen gangguan pendengaran pada masa anak-anak.

Kebanyakan infeksi virus dapat dicegah dengan imunisasi dan kebersihan yang baik. Sedangkan, pencegahan infeksi telinga dan kotoran, yaitu melalui perawatan telinga yang baik dan kebersihan umum.

Praktik pengasuhan ibu dan anak yang baik

Komplikasi saat lahir, seperti kekurangan oksigen, berat badan lahir rendah, prematuritas dan penyakit kuning, menyumbang 17 persen gangguan pendengaran yang terjadi di masa kanak-kanak. Pencegahan gangguan dengar karena hal tersebut adalah melalui peningkatan praktik kesehatan ibu dan anak.

Tindakan memperkuat program kesehatan ibu dan anak untuk mencegah berat badan lahir rendah, prematuritas, asfiksia lahir, infeksi cytomegalovirus kongenital, dan neonatus penyakit kuning, antara lain melalui:

  • Perbaikan gizi
  • Kesadaran akan praktik higiene,
  • Promosi kelahiran yang aman,
  • Penatalaksanaan cepat infeksi neonatus dan ikterus

Penggunaan obat yang rasional untuk mencegah gangguan pendengaran ototoksik

Penggunaan obat-obatan ototoksik pada wanita hamil dan anak-anak bertanggung jawab atas empat persen gangguan pendengaran masa kanak-kanak.

Tak hanya itu, untuk mencegah gangguan pendengaran pada anak-anak, orang tua bisa melakukan konseling genetik, identifikasi dan pengelolaan kondisi telinga umum,
program konservasi pendengaran kerja untuk kebisingan dan paparan bahan kimia serta menerapkan strategi mendengarkan yang aman untuk mengurangi paparan suara keras di tempat rekreasi.

Penyebab Gangguan Pendengaran di Masa Anak-anak

Gangguan pendengaran pada anak-anak dapat muncul saat lahir (bawaan) atau berkembang kemudian di masa kanak-kanak. Mereka dapat mengalami gangguan pendengaran berupa konduktif dan sensorineural.

Hasil diagnosis jenis gangguan dengar tersebut tergantung dari penyebabnya. Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention, hal-hal yang berisiko meningkatkan kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran, yaitu sebagai berikut.

Penyebab genetik

Satu dari dua kasus gangguan pendengaran pada bayi, muncul secara genetik. Beberapa bayi tersebut mungkin memiliki anggota keluarga yang juga memiliki gangguan pendengaran.

Sekitar satu dari tiga bayi dengan gangguan pendengaran genetik disertai dengan sindrom. Ini berarti mereka memiliki kondisi lain selain gangguan pendengaran, seperti Down syndrome atau Usher syndrome.

Baca Juga : Proses Mendengar Bunyi dan Penjelasan Bagaimana Telinga Bekerja

Infeksi saat Ibu Hamil sampai Trauma Kepala

Sementara itu, selain karena genetik, satu dari empat kasus gangguan pendengaran pada bayi penyebabnya adalah infeksi ibu selama kehamilan, komplikasi setelah lahir, dan trauma kepala.

  • Terkena infeksi, seperti sebelum lahir
  • Menghabiskan lima hari atau lebih di unit perawatan intensif neonatal rumah sakit (NICU) atau mengalami komplikasi saat berada di NICU
  • Menjalani prosedur khusus seperti transfusi darah untuk mengobati penyakit kuning yang parah
  • Memiliki kepala, wajah atau telinga yang berbentuk atau dibentuk dengan cara yang berbeda dari biasanya
  • Memiliki kondisi seperti gangguan neurologis yang mungkin terkait dengan gangguan pendengaran
  • Memiliki infeksi di sekitar otak dan sumsum tulang belakang yang disebut meningitis
  • Mendapat cedera parah di kepala yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit

Kelompok menengah dari negara berpenghasilan menengah ke bawah memiliki proporsi proporsi pencegahan lebih tinggi, yaitu 75 persen, ketimbang, daerah berpenghasilan tinggi, yakni 49 persen.

Perbedaannya adalah mungkin kejadian infeksi yang lebih tinggi secara keseluruhan di negara-negara berpenghasilan menengah dan menengah ke bawah. Lalu, perawatan kesehatan ibu dan anak yang lebih baik di negara-negara berpenghasilan tinggi.