Alat bantu dengar adalah perangkat elektronik dikenakan di telinga untuk membantu memperkuat suara dari luar. Dengan alat bantu dengar, seseorang yang menderita gangguan pendengaran kemungkinan dapat mendengar lebih baik.

Alat bantu dengar memang tidak mengembalikan pendengaran seperti semula. Namun, berguna meningkatkan pendengaran dan pemahaman bicara, terutama bagi orang dengan gangguan dengan sensorineural.

Gangguan dengar sensorineural adalah gangguan pendengaran karena kerusakan telinga bagian dalam, koklea, dan saraf pendengaran yang menghubungkan telinga bagian dalam ke otak mengalami masalah atau rusak.

Masalah tersebut timbul karena kerusakan pada sel-sel rambut kecil di koklea dan atau saraf pendengaran. Akibatnya, ketika energi suara mencapai koklea, sel-sel rambut yang rusak itu tidak dapat mengubah gelombang suara menjadi sinyal saraf yang melewati saraf pendengaran ke otak.

Bagaimana cara kerja alat bantu dengar?

Alat bantu dengar memperbesar getaran suara yang masuk ke telinga. Sel-sel rambut yang bertahan mendeteksi getaran yang lebih besar dan mengubahnya menjadi sinyal saraf yang diteruskan ke otak.

Ketika kerusakan sel rambut seseorang semakin besar, maka semakin parah gangguan pendengaran. Artinya, semakin besar pula amplifikasi alat bantu dengar yang untuk mengatasi perbedaan tersebut.

Meski demikian, ada batasan praktis untuk jumlah amplifikasi dari alat bantu dengar. Sehingga, saat kasus telinga bagian dalam terlalu rusak, getaran besar pun tidak akan diubah menjadi sinyal saraf. Dalam situasi ini, alat bantu dengar tidak akan efektif.

Berikut jenis-jenis alat bantu dengar

Ilustrasi pemakaian alat bantu dengar. (Foto: Unsplash/Mark Paton)
Ilustrasi pemakaian alat bantu dengar. (Foto: Unsplash/Mark Paton)

Behind-the-Ear (BTE) atau di belakang telinga

Behind-the-Ear (BTE) merupakan alat bantu dengar BTE yang terletak di belakang telinga. Cara kerjanya, suara yang datang dan ditangkap speaker dalam badan plastik alat bantu dengar. Lalu, suara mengalir melalui kawat yang terkait di atas telinga dan masuk ke saluran telinga.

Receiver-In-The-Ear (RITE) atau Receiver-In-Canal (RIC)

RITE adalah model alat bantu dengar di belakang telinga yang memiliki speaker kecil di ujung kabel yang masuk ke dalam telinga. Alat bantu dengar jenis ini lebih unggul dari segi estetika dan risiko whistling feedback lebih rendah daripada BTE.

In-the-Ear (ITE) atau dalam telinga

Alat bantu dengar dalam telinga ini diklaim cocok untuk gangguan pendengaran ringan hingga berat. Karena In-the-Ear (ITE) memiliki ukuran besar yang dapat mengakomodasi fitur seperti directionality. Sehingga, penderita gangguan dengar lebih mudah memahami ucapan orang lain ketika berada dalam situasi bising.

Adapun In-the-Ear memiliki beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut.

  1. Invisible-In-the-Canal (IIC). Jenis alat bantu dengar terkecil dan hampir tak terlihat di telinga oleh orang lain. Penempatan IIC jauh dalam saluran telinga dengan instrumen manfaat akustik alami telinga luar.
  2. Completely-In-the-Canal (CIC). Jenis alat bantu dengar tersembunyi dan masih bisa sedikit terlihat di dalam liang telinga.
  3. In-the-Canal (ITC). Alat bantu dengar yang ukurannya sedikit lebih besar dari model Completely-In-the-Canal.
  4. Half-Shell. Trmasuk kelompok alat bantu dengar In-the-Ear (ITE) yang bentuknya kecil. Bentuk Half-Shells masih terlihat jelas di telinga (di dalam concha) dan modelnya khusus menyesuaikan concha telinga penggunanya.
  5. Full-Shell. Alat bantu dengar berbentuk cangkang penuh seperti air buds. Dengan bentuk seperti itu, Full-Shells lebih mudah masuk ke telinga.

Baca Juga : Sama-sama Memperkeras Suara dari Luar, Pilih Alat Bantu Dengar Analog atau Digital?

Ke mana harus pergi ketika membutuhkan alat bantu dengar?

Memakai alat bantu dengar tak bisa sembarangan. Karena, orang dengan gangguan dengar perlu melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui separah apa kemampuan dengarnya. Dalam catatan American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), derajat gangguan dengar terbagi menjadi sebagai berikut.

  • Normal: memiliki kemampuan mendengar suara -10 sampai 15 decibel (dB)
  • Sedikit: memiliki kemampuan mendengar suara 16 sampai 25
  • Ringan: memiliki kemampuan mendengar suara 26 sampai 40
  • Sedang: memiliki kemampuan mendengar suara 41 sampai 55
  • Cukup Parah: memiliki kemampuan mendengar suara 56 sampai 70
  • Parah: memiliki kemampuan mendengar suara 71 sampai 90 dB
  • Amat sangat parah: memiliki kemampuan mendengar suara 91+dB

Untuk melakukan tes pendengaran pergi dan periksa ke dokter spesialis atau hearing center, seperti Kasoem Hearing Center. Sebab, di sana menyediakan layanan pemeriksaan bagi dewasa untuk menentukan kemampuan dengar, sekaligus mencari tahu tingkat keparahan pendengaran seseorang.

Sebagai satu-satunya hearing center yang mengantongi sertifikasi ISO 9001 2015, Kasoem Hearing Center melayani pemeriksaan oleh dokter spesialis di bidangnya. Selain itu, Kasoem Hearing Center menyediakan alat bantu dengar yang sesuai dengan kebutuhan pendengaran.

Dengan tagline “One Stop Solution for All Hearing Problem” Kasoem Hearing Center menyediakan layanan pemeriksaan lengkap untuk bayi, anak-anak hingga dewasa di berbagai daerah di Indonesia.